Membangun dari Bawah, Upaya Mewujudkan Keberlanjutan Pamsimas

“Pelaksanaan Pendekatan Berbasis Masyarakat pada Pamsimas”
Selama hampir 20 tahun, masyarakat Desa Lokodidi, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, belum bisa menikmati air bersih yang layak. Desa itu di pesisir pantai, dengan jarak dari ibukota kabupaten sejauh 65 km. Warga Lokodidi, yang sebagian besar sebagai nelayan, harus mendorong gerobak untuk mengangkut air dari sebuah sumur berjarak sekitar 2 km jauhnya. Itu dilakukan tiap hari, agar memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kondisi menjadi berbeda setelah Program Pamsimas hadir. Hasilnya : bangunan sarana air minum berupa bangunan pengambilan air baku (intake) dan saringan pasir lambat untuk menyaring air, serta keran dan hidran umum
Lain lagi cerita di Desa Donomulyo, Yogyakarta. Dahulu, pernah ada lima proyek air bersih yang dibangun di Desa Donomulyo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kelima proyek dikerjakan oleh pemerintah dan swasta. Namun, semuanya mangkrak, alias tidak berfungsi. Kondisi berbeda Program Pamsimas masuk ke desa yang selalu dilanda kekeringan itu. Dari tahapan perencanaan sampai pelaksanaannya, semuanya melibatkan masyarakat, sehingga mereka punya roso handarbeni (rasa memiliki). Program Pamsimas kini telah dinikmati sebagian besar warga. Air dialirkan secara gravitasi ke empat bak pembagi dan didistribusikan ke rumah-rumah warga dengan jaringan pipa. Warga desa kini tidak perlu lagi berjalan sejauh 1 kilometer ke sumber mata air. Kini jumlah sambungan rumah sudah 465 unit. KPSPAM merupakan unit otonom yang mempunyai kewenangan mengatur dan mengelola kegiatan dan organisasi secara internal, namun tetap dibawah koordinasi pemerintah desa. Pengurus badan pengelola dipilih oleh masyarakat
Cerita di atas itu hanya dua dari ribuan desa di seluruh Indonesia yang telah mendapat Program Pamsimas. Desa-desa itu tersebar baik di pegunungan maupun pesisir, baik di pulau-pulau besar maupun kecil. Sarana dan prasarana untuk mendapat air minum masih sangat diperlukan di berbagai pelosok perdesaan dan pinggiran kota di wilayah Indonesia. Banyak yang tidak memadai. Kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat kurang baik, sehingga memiliki dampak lanjutan terhadap tingkat perekonomian keluarga. Program Pamsimas yang hadir sejak tahun 2008 ini merupakan skema atau model pembangunan air minum perdesaan yang dilaksanakan dengan pendekatan berbasis masyarakat.
MELIBATKAN MASYARAKAT DARI AWAL, KUNCI KEBERHASILAN PROGRAM
Pelibatan masyarakat adalah salah satu kunci penting Kegiatan Pamsimas tak cuma Lokodidi dan Donomulyo, tapi di desa-desa Pamsimas lainnya. Keterlibatan masyarakat sejak awal pelaksanaan program menjamin keberlanjutan program karena adanya kerja sama dan gotong royong masyarakat penerima manfaat, baik dalam pembangunan maupun perawatan sarana air minum. Pamsimas tak hanya mencerminkan kolaborasi dan gotong royong antar anggota masyarakat, tapi antara masyarakat dengan pemangku kepentingan lain, baik pemerintah, swasta maupun lembaga swadaya
Kegiatan Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (Pamsimas) telah menjadi salah satu kegitan andalan nasional (Pemerintah dan Pemerintah Daerah) untuk meningkatkan akses penduduk perdesaan terhadap fasilitas air minum yang layak dengan pendekatan berbasis masyarakat. Pamsimas dilaksanakan dengan pendekatan berbasis masyarakat melalui keterlibatan masyarakat (perempuan dan laki-laki, kaya dan miskin, dan lain-lain) dan pendekatan yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat (demand responsive approach). Kedua pendekatan tersebut dilakukan melalui proses pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan prakarsa, inisiatif, dan partisipasi aktif masyarakat dalam memutuskan, merencanakan, menyiapkan, melaksanakan, mengoperasikan dan memelihara sarana yang telah dibangun, serta melanjutkan kegiatan peningkatan derajat kesehatan di masyarakat termasuk di lingkungan sekolah.
Salah satu nilai yang ditumbuhkan pada pelaksanaan Pamsimas adalah nilai gotong royong. Gotong royong merupakan suatu kegiatan sosial yang menjadi ciri khas dari bangsa Indonesia dari jaman dahulu kala hingga saat ini. Rasa kebersamaan ini muncul karena adanya sikap sosial tanpa pamrih dari masing-masing individu untuk meringankan beban yang sedang dipikul. Hanya di Indonesia kita dapat menemukan sikap gotong royong ini karena di negara lain masyarakatnya cenderung acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar. Ini merupakan sikap positif yang harus selalu dijaga dan dilestarikan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kokoh dan kuat disegala hal karena didasari oleh sikap saling bahu membahu antara satu dengan yang lain.
Gotong royong merupakan ruh utama dalam keberhasilan Kegiatan Pamsimas. Melalui semangat kebersamaan, masyarakat desa tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga aktor utama yang memastikan sarana air minum dibangun serta dipelihara dengan baik. Ketika warga bergandengan tangan, mulai dari perencanaan, pembangunan, hingga pemeliharaan, tercipta rasa memiliki yang kuat. Hal ini membuat fasilitas yang dibangun lebih berkelanjutan karena masyarakat merasa bertanggung jawab menjaga kualitas dan keberfungsiannya.
Dalam konteks Pamsimas, gotong royong juga menjadi sarana pemberdayaan. Melalui kerja bersama, masyarakat belajar mengelola sumber daya, menyelesaikan masalah secara kolektif, dan membangun solidaritas sosial. Pendamping hanya berperan sebagai fasilitator, sementara kekuatan utama ada pada partisipasi warga. Dengan demikian, gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan strategi efektif untuk memastikan akses air minum dapat bertahan lama, sekaligus memperkuat kemandirian desa.
TANTANG KE DEPAN
Keterlibatan masyarakat dalam Pamsimas dimulai sejak tahapan sosialisasi desa. Kepala desa membuat kegiatan sosialisasi desa sebagai media rembug masyarakat desa untuk menyampaikan informasi tentang Kegiatan Pamsimas agar masyarakat melaksanakan dan sanggup berkontribusi sesuai yang dipersyaratkan sebagai lokasi sasaran Pamsimas.
Keterlibatan masyarakat akan terus diperlukan kegiatan lanjutan. Pada tahapan identifikasi masalah dan analisis situasi, masyarakat bersama-sama melakukan kajian terhadap kondisi akses air minum di desa untuk merumsukan masalah yang dialami dan menemukan potensi yang dimiliki yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah air minum dan sanitasi. Pada tahap ini masyarakat secara secara bersama-sama melakukan rembug untuk menentukan opsi teknologi sarana air minum yang akan di usulkan dengan mengacu pada kelebihan dan konsekuensi yang harus masyarakat lakukan dengan pilihan sebuah opsi teknologi sarana air minum. Selain ini masyarakat juga membentuk lembaga secara demokratis yaitu lembaga yang akan mengelola kegiatan dan sarana yang nanti akan dibangun maupun yang selesai dibangun. Semua kegiatan dilakukan dengan melibatkan semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali, laki-laki, perempuan, kaya, miskin, masyarakat disabilitas dan lainnya.
Semua keputusan program dibicarakan dan dimusyawarahkan bersama dengan keterlibatan sebanyak mungkin warga masyarakta. Program juga dilaksanakan secara bersama-sama oleh warga. Cara ini tak hanya memuculkan rasa memiliki dan rasa tanggung jawab di kalangan masyarakat terhadap program dan bangunan yang dibuat, namun juga membangun solidaritas dan kerjasama antar warga.
Tantangan gotong royong di lokasi Pamsimas muncul karena dinamika sosial masyarakat yang beragam. Tidak semua warga memiliki tingkat kepedulian dan komitmen yang sama terhadap pelaksanaan dan pengelolaan sarana air minum. Ada kalanya sebagian masyarakat merasa bahwa tanggung jawab pelaksanaan dan pemeliharaan hanya milik kelompok tertentu, sehingga partisipasi menjadi timpang.
Di sisi lain, tantangan lain adalah menjaga konsistensi semangat gotong royong dalam jangka panjang. Pada tahap awal pembangunan, antusiasme biasanya tinggi, tetapi setelah sarana selesai dibangun, semangat kebersamaan bisa menurun. Hal ini berisiko membuat SPAM yang sudah dibangun tidak terpelihara dengan baik. Untuk mengatasinya, perlu ada mekanisme yang mendorong keterlibatan rutin, misalnya melalui iuran bersama, jadwal kerja bakti, atau forum musyawarah desa. Dengan begitu, gotong royong tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi benar-benar menjadi budaya yang menopang keberlanjutan Pamsimas.
Selain itu, dibalik semua upaya yang telah dilakukan masyarakat untuk merajut kembali semangat gotong royong masyarakat ketika kecenderungan individualistik makin mengemuka masih terdapat tantangan-tantangan yang perlu diperhatikan yaitu Kurangnya komitmen dari masyarakat sasaran karena minimnya pemahaman mereka akan pentingnya proses yang harus mereka lalui. Kegiatan dengan pendekatan berbasis masyarakat memerlukan tahapan kegiatan dan waktu yang lebih Panjang disbanding kegiatan tanpa pendekatan berbasis masyarakat. Hal ini dilakukan akan semua keputusan yang diambil adalah hasil rembug dan keputusan masyarakat. Namun masyarakat sering kali “tidak sabar” untuk melewati semua proses kegiatan dan diskusi.
Upaya melibatkan masyarakat selayaknya tetap terus dilaksanakan. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan rasa tanggungjawab masyarakat terhadap hasil program dan kegiatan. Dengan demikian dampak akhir kegiatan menjadi lestari dan berkelanjutan dapat tercapai. Gotong royong adalah fondasi yang membuat Pamsimas lebih dari sekadar kegiatan pembangunan fisik. Melalui kerja bersama, masyarakat tidak hanya membangun sarana air minum, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan yang kuat. Semangat kebersamaan ini memastikan keberlanjutan layanan SPAM terbangun, karena warga merasa bertanggung jawab menjaga hasil yang telah dicapai. Lebih dari itu, gotong royong memperkuat solidaritas sosial dan memperluas kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya. Dengan demikian, Pamsimas bukan hanya menghadirkan air, tetapi juga membangun budaya kolaborasi yang menjadi modal utama bagi desa menuju kemandirian dan kesejahteraan (Mei 2026/KAP Pamsimas).
Bagikan tulisan ini
Ikuti kami di media sosial
Apakah Anda memiliki tulisan berita, artikel, atau cerita menarik terkait Program Pamsimas yang ingin dibagikan kepada masyarakat luas? Anda bisa mengirimkannya melalui email site.pamsimas@gmail.com
Tulisan terkini
Mei 11, 2026
April 16, 2026
April 13, 2026
Maret 31, 2026






