Memutar Keran, Mengalirkan Harapan

Best Practise Pelaksanaan Pamsimas TA 2025;
B agi kebanyakan warga Desa Kayuri, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, air yang mudah diakses adalah kemewahan yang harus ditebus dengan peluh. Selama berpuluh tahun, deru langkah kaki membawa jeriken kosong menuju sumur-sumur yang tak bertahan debit airnya menjadi pemandangan harian yang menjemukan. Namun, tahun 2025 mencatatkan sejarah baru. Melalui Kegiatan Pamsimas (Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat), sebuah transformasi besar terjadi hanya dalam kurun waktu enam bulan.
Kini, keajaiban itu hadir tepat di depan pintu rumah. Tak perlu lagi berjalan jauh atau memikul beban berat karena cukup dengan memutar tuas keran, air mengalir jernih.
“Kami seperti tidak percaya, air sekarang datang menghampiri kami,” ungkap mama Lambu Tarimbang dengan mata berbinar.
“Sekarang kami tidak perlu pikul air jauh lagi,” Mama Nggiri Hunggurami menyatakan hal senada pada kesempatan berbeda.
Namun, di balik kemudahan yang dirasakan warga ini, ada tugas besar nan berat menanti Bapak Teul Lalupanda selaku Ketua KPSPAM (Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum) Cahaya Baru, Desa Kayuri, kelompok pemelihara sarana yang dibentuk Kegiatan Pamsimas. Ia berharap ada kesadaran kolektif dari masyarakat untuk terus menjaga sarana air minum Pamsimas yang telah terbangun ini.
Penyelesaian fisik sarana air minum dalam waktu enam bulan adalah sebuah prestasi, namun ujian sesungguhnya dimulai setelah serah terima dilakukan. Menilik pengalaman, banyak proyek infrastruktur di masa lalu terbengkalai karena ketiadaan biaya operasional dan pemeliharaan. Menyadari hal ini, Bapak Teul Lalupanda bersama para tokoh masyarakat sepakat bahwa “air gratis” adalah mitos yang membahayakan keberlanjutan.
Tanpa perawatan mesin pompa, perbaikan pipa yang bocor, hingga biaya listrik, keran-keran itu suatu saat akan kering kembali. Di sinilah strategi pengelolaan iuran menjadi kunci utama.
Setelah konstruksi fisik selesai, dan walau kegiatan belum diserahterimakan, sistem iurandari warga masyarakat telah berjalan dengan baik. Dengan pendampingan dari Fasilitator, KPSPAM menerapkan langkah-langkah strategis sebagai berikut:
1. Sosialisasi Transparan dan Partisipatif
Sebelum keran pertama dipasang, masyarakat diajak berdialog. Pengelola memaparkan rincian biaya yang dibutuhkan untuk menjaga air tetap mengalir. Mereka menegaskan, iuran tidak dilihat sebagai “pajak”, melainkan sebagai “tabungan bersama” untuk memastikan mereka tidak perlu lagi berjalan jauh memikul jeriken
2. Penentuan Tarif yang Inklusif
Tarif ditentukan melalui musyawarah desa dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi warga di dusun Matawai Amah dan Bidihunga. Disepakati iuran Rp 3.000 per meter kubik. Kesepakatan iuran bulanan ini mencakup biaya operasional (listrik, aksesoris pipa, transport pengurus) serta dana cadangan untuk kerusakan tak terduga
3. Mekanisme Penagihan Berbasis Komunitas
Pengumpulan iuran dilakukan oleh petugas yang juga merupakan warga setempat. Hal ini menciptakan ikatan emosional dan kontrol sosial yang kuat. Dalam dua bulan pertama, tingkat kepatuhan pembayaran mencapai 100%. Warga merasa malu jika tidak berkontribusi pada sarana yang manfaatnya mereka rasakan setiap detik.
Dampak dari berjalannya iuran ini sangat signifikan. Pertama, dari sisi teknis, KPSPAMS kini memiliki dana taktis yang siap digunakan kapan saja terjadi kendala teknis kecil. Kedua, dari sisi sosial, muncul rasa memiliki yang luar biasa. Warga secara sukarela melaporkan jika melihat rembesan air pada pipa transmisi di pinggir jalan atau keran air yang patah.
Yang paling menyentuh adalah perubahan gaya hidup. Ibu-ibu rumah tangga kini memiliki waktu lebih banyak untuk menenun atau produktivitas, atau sekadar menemani anak belajar, karena tugas mengambil air telah digantikan oleh sistem perpipaan yang handal.
Keberhasilan Pamsimas 2025 di Desa Kayuri ini memberikan pelajaran berharga bahwa pembangunan fisik hanyalah separuh dari perjalanan. Sisanya adalah membangun sistem sosial dan ekonomi yang mendukung infrastruktur tersebut. Iuran yang dikelola dengan jujur dan transparan adalah napas bagi keberlangsungan sarana air minum.
Dua bulan berjalan adalah langkah awal yang menjanjikan. Dengan iuran yang tetap terkumpul, masyarakat telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar penerima bantuan, melainkan “manajer” bagi kesejahteraan mereka sendiri. Di balik gemericik air yang keluar dari keran di depan rumah, ada komitmen warga masyarakat
yang terus terjaga untuk memastikan bahwa keajaiban ini tidak akan pernah berhenti mengalir. (Tim Pendamping Kegiatan Pamsimas Provinsi NTT).
Bagikan tulisan ini
Ikuti kami di media sosial
Apakah Anda memiliki tulisan berita, artikel, atau cerita menarik terkait Program Pamsimas yang ingin dibagikan kepada masyarakat luas? Anda bisa mengirimkannya melalui email site.pamsimas@gmail.com
Tulisan terkini
April 13, 2026
Maret 31, 2026
Desember 4, 2025
November 27, 2025









