Menara Harapan Di Atas Cadas

Best Practise Pelaksanaan Pamsimas TA 2025;
Di balik perbukitan yang menyimpan sejarah panjang Desa Hanggaroru, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tahun 2025 akan selalu dikenang sebagai tahun “Perjuangan”. Kegiatan Pamsimas (Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat) yang hadir di sana bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan sebuah ujian ketangguhan mental, spiritual, dan fisik bagi seluruh warga.
Usulan infrastruktur di Desa Hanggaroru adalah pekerjaan menara beton setinggi 7 meter berkapasitas 18 meter kubik. Ini merupakan hal baru sebab pekerjaan seperti ini belum pernah dilaksanakan sebelumnya di dalam desa. Pekerjaan menara ini bukanlah hal ringan dan menuntut fokus tinggi. Selain itu juga ada pekerjaan 41 unit Sambungan Rumah dan pemasangan pipa sepanjang 5050 meter.
Selain soal teknis, kendala lain adalah soal nonteknis dan membuat tingkat kesulitan menjadi tinggi. Sebagaimana situasi wilayah desa di Pulau Sumba umumnya, adat istiadat adalah napas kehidupan masyarakatnya. Rangkaian acara adat harus dilaksanakan, menuntut perhatian dan tenaga seluruh warga. Belum reda lelah setelah upacara adat, duka menyelimuti desa; kematian datang bertubi-tubi dalam waktu berdekatan. Dalam tradisi Sumba, duka adalah momen berhenti sejenak dari segala aktivitas fisik demi menghormati leluhur, buka saja sehari-dua hari melainkan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Pekerjaan pun sempat terhenti, menciptakan kekhawatiran besar bahwa kegiatan Pamsimas ini akan terhenti. Sejak penggalian fondasi, alam dan tradisi seolah memberikan ujian yang bertubi-tubi. Pada minggu-minggu terakhir penyelesaian pekerjaan, langit yang biasanya ramah tiba-tiba menumpahkan hujan dengan intensitas tinggi. Setiap hari, para pekerja harus berburu dengan waktu berkejaran dengan hujan, mencuri kesempatan menuntaskan pekerjaan tahap demi tahap.
Namun, di tengah kesunyian duka dan deru hujan, semangat itu tidak benar-benar padam. Fokus utama adalah sebuah mahakarya teknik yang belum pernah ada dalam sejarah desa. Bagi kebanyakan warga, melihat besi-besi baja dirangkai menuju langit adalah pemandangan yang unik. Beruntung sebab Kepala Tukang merupakan orang yang berpengalaman dalam proyek-proyek besar serupa. Ia mampu menangani dan memanajerial kegiatan dengan baik. Pembesian dipasang dengan cermat, pun pengecoran dilakukan dengan ketelitian tinggi. Setiap sentimeter beton harus dipastikan kuat menahan beban ribuan liter air. Menara ini bukan sekadar bangunan, ia adalah simbol martabat desa yang kini mampu menaklukkan keterbatasan teknologi.
Tantangan berikutnya membentang di bawah permukaan tanah. Demi keamanan sarana, jaringan pipa sepanjang 5.050 meter harus ditanam. Meski tanah desa didominasi oleh batuan keras setiap kali dihantam linggis, para pekerja tak surut semangatnya. Tak hanya itu, jalur pipa harus melewati hutan dengan pohon-pohon berakar tunggang yang menghujam dalam. Akar-akar ini melilit kuat di antara bebatuan, memaksa warga untuk bekerja hati-hati agar tidak merusak ekosistem namun tetap mencapai kedalaman tanam yang standar. Tangan-tangan yang melepuh dan punggung yang pegal menjadi pemandangan harian, namun tak ada satu pun kata menyerah yang terucap.
Keberhasilan ini mustahil tercapai tanpa “tangan dingin” dari berbagai pihak. Pemerintah Desa didukung penuh Pemerintah Kabupaten menunjukkan komitmen tinggi, memastikan semua harus berada dalam tenggat waktu yang direncanakan. Tak ada ruang untuk terlambat. Kehadiran Fasilitator yang memilih untuk live in atau tinggal menetap di desa berandil besar dalam mendukung kegiatan. Fasilitator ini bukan sekadar pengawas berbaju rapi, namun ia adalah kawan yang ikut berlumur lumpur, terlibat memegang sekop campuran beton, ikut melayat saat duka, dan ikut duduk melingkar dalam upacara adat. Kehadirannya yang melebur dengan masyarakat menciptakan ikatan emosional yang kuat. Mereka bukan lagi orang asing yang memerintah, melainkan bagian dari keluarga besar desa yang memiliki visi yang sama.
Saat hari penentuan tiba, semua berjalan sesuai rencana. Ketika stop keran di bawah menara air dibuka, suara gemericik air yang jernih memecah keheningan. Air mengalir deras, melewati pipa-pipa yang ditanam dengan peluh, melintasi akar pohon dan batu cadas, hingga akhirnya mencapai 41 unit titik keran yang melayani 56 KK dan 285 jiwa yang tersebar di Dusun Aijawa dan Taharidu. Air itu dingin, bersih, dan membawa harapan.
Keberhasilan Pamsimas 2025 di desa Hanggaroru adalah bukti nyata bahwa kolaborasi antara kebijakan pemerintah yang kuat, bimbingan teknis yang humanis dari fasilitator, dan daya lentur masyarakat desa dapat mengalahkan rintangan apa pun. Menara beton setinggi 7 meter itu kini berdiri tegak, menantang langit, menjadi monumen bisu tentang bagaimana sebuah desa menolak kalah oleh alam dan keadaan. Mereka tidak hanya membangun saluran air, mereka telah membangun kembali rasa percaya diri sebuah komunitas. (Tim Pendamping Kegiatan Pamsimas TA 2025 Provinsi NTT).
Bagikan tulisan ini
Ikuti kami di media sosial
Apakah Anda memiliki tulisan berita, artikel, atau cerita menarik terkait Program Pamsimas yang ingin dibagikan kepada masyarakat luas? Anda bisa mengirimkannya melalui email site.pamsimas@gmail.com
Tulisan terkini
April 16, 2026
April 13, 2026
Maret 31, 2026
Desember 4, 2025










